Subscribe:

Senin, 30 Mei 2011

Mitos: Tidak Ada Emosi Dalam Bisnis Online

Mitos: Tidak Ada Emosi Dalam Bisnis Online

Kalau Anda berpikir pelaku bisnis online tak lebih dari sekumpulan orang-orang berhati robot, maka Anda salah besar. Mereka juga manusia yang memiliki luapan emosi susah, senang, sedih, gembira, kecewa, antusias, semangat, tidak semangat dan lain-lain. Emosi tersebut bisa berubah sesuai keadaan di luar. Apa yang kita lihat, kita dengar dan kita pikirkan bisa mempengaruhi emosi dalam pengambilan keputusan.
Ada banyak keputusan yang melibatkan emosi, baik Anda sadari atau tidak. Saat melakukan riset keyword misalnya, boleh jadi pandangan mata Anda sedang fokus menganalisa hasil penelusuran lanjutan sebuah kata kunci. Mengamati jumlah penelusuran bulanan, lalu mempertimbangkan apakah kata kunci ini akan tetap dicari orang dalam beberapa bulan ke depan. Yang sering terjadi adalah kita sering mengandalkan ‘feeling’. Entah karena apa, kita merasa yakin sekali dengan satu keyword padahal jumlah pencarian tidak seberapa.
Pertimbangan emosi juga berlaku dalam menentukan mitra kerja saat melakukan Joint Venture (JV). Tidak bisa disangkal lagi, kita akan mempertimbangkan kenyamanan bekerja sebelum memilih partner JV. Seringkali kecerdasan dan kredibilitas dikesampingkan untuk mendapatkan kondisi yang mendukung terciptanya team work yang solid, kompak dan bisa mengarahkan langkah ke tujuan yang ingin dicapai bersama.
Pernah juga ada kisah rencana kerjasama beberapa master bidang WordPress untuk menyusun proyek sosial untuk perkembangan dunia blogging. Pilot project ini melibatkan beberapa nama besar dalam bidangnya. Saat diluncurkan terlihat seolah-olah akan berjalan lancar tanpa hambatan. Ternyata tidak semudah itu. Mungkin panitia lupa bahwa banyak orang artinya banyak kepala, banyak keinginan yang ingin ditampung. Dan karena panitia tidak mampu mengakomodir emosi dan kepentingan yang terlibat, akhirnya satu demi satu pendukung proyek mengundurkan diri.
Emosi itu tidak selamanya jelek. Kita juga bisa memanfaatkan emosi yang sedang meledak-ledak agar lebih survive terhadap tantangan yang ada. Kita nggak bisa meminta emosi jenis apa yang masuk ke dalam pikiran, namun kita bisa mengendalikan emosi mana yang akan kita tampilkan dalam perbuatan. Selamat mengelola pikiran dan emosi. Semoga bijak memilih keputusan terbaik.
Semangat Berjuang!