Subscribe:

Rabu, 15 Juni 2011

Toko Online Vs Toko Ritel

Saat ini masyakarat Indonesia tengah dimanjakan aneka layanan toko online yang menyediakan beragam kebutuhan masyarakat. Dari pembelian yang remeh temeh seperti sekeping CD sampai yang super mahal seperti batu permata. Di lain pihak, perkembangan toko ritel yang namanya berakhiran –mart dan sejenisnya, kian menjamur di pelosok tanah air. Meskipun Pemerintah telah secara jelas mengatur syarat-syarat berdirinya sebuah jaringan retail, tetap saja bidang ini menarik investor dari dalam dan luar negeri.

Bagaimana kedua jenis toko ini saling berhadapan merebut perhatian customer? Online versus offline mana yang lebih kuat? Phillip Kotler dalam buku “According to Kotler” telah memprediksi internet akan menjadi kutukan bagi sejumlah sektor ritel. Akan terjadi kemerosotan jumlah biro perjalanan, agen asuransi, pialang saham, toko buku, toko musik, dan lain-lain.

Akhir-akhir ini customer dapat memesan peralatan besar, mebel, makanan siap antar, dan bahkan mobil melalui internet. Para peritel berbasis toko sudah terpukul oleh semakin banyaknya pemesanan melalui katalog, dan mereka akan lebih terpukul lagi oleh banyaknya pemesanan melalui toko online.

Para pemilik toko harus mulai mencari cara untuk membuat toko mereka menjadi lebih menarik bagi customer. Daripada sekedar memajang produk, mereka harus memikirkan bagaimana memberi pengalaman berbelanja yang memuaskan bagi customer.

online_shop vs retail

Sebaliknya, mall tidak akan terlalu dirugikan oleh penjualan online. Mall menawarkan restoran, bioskop, tempat berkumpul bersama teman, serta tempat untuk melihat dan menyentuh barang yang akan dibeli, yang tentunya hal ini tidak dapat mereka lakukan melalui internet.

Walaupun begitu, keberadaan mall di beberapa kota sudah mencapai titik jenuh, sehingga mall-mall lama akan digantikan dengan mall baru. Selain itu, mall harus mewaspadai kehadiran mall dunia maya yang ada di internet, misalnya Wal-Mart dan Amazon.
Memiliki Segmen Masing-masing

Manurut saya, saat ini toko online dan offline memiliki segmentasi tersendiri dalam perekonomian masyarakat. Hal ini berlangsung setidaknya SAMPAI ada gebrakan berani dari pihak ritel offline. Masing-masing akan saling akan bertahan dengan cara yang unik dan mengisi beberapa lapisan masyarakat. Untuk beberapa barang yang bisa dikirim, tahan lama, tidak mudah rusak, dan bernilai ekonomis tinggi, toko online bisa berperan banyak dalam hal ini.

Namun untuk barang-barang konsumsi kebutuhan sehari-hari, pasar tradisional akan tetap memegang kendali atas pemenuhan kebutuhan manusia. Akan sangat lucu kalau kita order sekilo cabe merah keriting melalui situs Amazon. Atau kalau tiba-tiba minyak goreng di dapur kehabisan tentu pilihan kita bukan ke Wall-Mart. Jadi semua sudah ada porsinya masing-masing.

Bagaimana menurut Anda?